Tranportasi Pekalongan
Kita
sudah lihat di tv bahwa Jakarta sebagai kota pertama yang dinjadi patokan
ketika orang luar negeri pertama kali
mendengar nama Indonesia. Diberitakan bahwa transportasi umum di ibukota yang
bersih, bagus, dan terhubung dengan moda transportasi lain seperti
Transjakarta, KRL, SkyTrain, MRT serta adanya lrt yang sedang dalam masa uji
coba. Semua tergabung menjadi satu dalam mekanisme yang disebut JakLingko. Kita
sebagai bangsa patut bangga dan menurut saya kita sudah dijalan yang benar
untuk menjadikan transportasi umum itu moda utama bagi masyarakat. Tetapi
bagaimana dengan keadaan kota-kota kecil di Indonesia ?
Saya
akan melihat dari perspektif masyarakat langsung dengan mengambil contoh kota
Pekalongan. Kota dengan luas 45,35 km2 ini sebenarnya wilayah yang cukup kecil
dibanding dengan kota-kota kecil yang lain. Transportasi umum yang tersedia
yaitu Angkot dan Bus. Hampir semua armada angkot dan bus di kota ini tidak
layak pakai. Karat terlihat baik di dalam mauopun di luar kendaraan. Ngetem atau pemberhentian yang ... yah
bisa dimana saja. Banyak halte yang tak terpakai, kotor, serta tidak nyaman
baik bagi orang tua maupun ibu hamil. Dan tidak ada fasilitas bagi kaum difabel
untuk menaiki transportasi umum. Kalaupun masih terlihat agak bagus, kita
bahkan tidak tahu apakah kendaraan ini masih aman untuk digunakan atau tidak
dikarenakan tidak adanya informasi uji KIR yang tertera.
Dengan
semua kekacauan yang disebutkan diatas yang terjadi adalah kendaraan pribadi
membludak, macetr disana-sini, polusi dan debu, serta keamanan bagi pengendara
yang sangat riskan. Pemerintah pun tak kunjung memberikan solusi jangka poendek
bagi masyarakat sehingga mobilitas masyarakat menjadi tidak efektif dan
efisien. Trotoar yang rusak dan dipakai pedagang kaki lima serta tidak adanya
jalur untuk sepeda membuat checklist sebagai kota dengan transportasi umum yang
buruk terpenuhi dengan sangat baik.
Disamping
itu keuntungan membawa kendaraan pribadi yang diantaranya lebih cepat menuju
dari satu tempat ke tempat lain, irit bahan bakar serta, takut tidak sampai
tujuan jika menggunakan moda umum menjadi alasan kenapa masyarakat menjadi ogah untuk berpindah moda tranportasi. Penanganan
pemerintah seharusnya bisa dikoordinasikan dengan lembaga perhubungan dan dinas
terkait. Selain itu untuk mempercepat adanya solusi bisa dibicarakan dengan
tingkat gubernur ataupun pemerintahan pusat supaya ada diskusi yang terjalin.
Semoga
transportasi di Ibukota terus berbenah menjadi lebih baik dan lebih
bersih,tertib, aman dan juga semoga dibuatkan transportasi umum bagi kota-kota
metropolitan selain Jakarta baru setelah itu mulai merebak ke kota-kota kecil
seperti Pekalongan salah satunya. Kita hanya bisa berharap dan mendukung dengan
sekuat tenaga apa yang dicanangkan pemerintah. Untuk kota kecil mungkin bisa
diberikan angkot-angkot yang memadai, atau bisa biadakan bis sekolah, atau juga
bisa memberikan pelayanan bagi pejalan kaki dan penyepeda jalur tersendiri agar
bisa mengurangi kemacetan dan polusi udara yang ditimbulkan dari banyaknya
kendaraan pribadi.
Komentar
Posting Komentar